<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>bintang mamat</title>
	<atom:link href="http://www.bintangmamat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bintangmamat.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Feb 2011 18:40:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>(Tentang) Bapak</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2011/02/15/tentang-bapak/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2011/02/15/tentang-bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 18:40:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Teh hitam di dalam cangkir ini mulai berkurang isinya. Teh yang sejak satu jam lalu sengaja saya buat untuk sekedar menghangatkan malam saya. Musin hujan sudah berlalu seminggu sebelumnya, tetapi entah mengapa angka di alat pengukur suhu ini masih juga belum beranjak naik.
Dan seperti malam kemarin, atau malam seminggu yang lalu, dan juga malam setahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teh hitam di dalam cangkir ini mulai berkurang isinya. Teh yang sejak satu jam lalu sengaja saya buat untuk sekedar menghangatkan malam saya. Musin hujan sudah berlalu seminggu sebelumnya, tetapi entah mengapa angka di alat pengukur suhu ini masih juga belum beranjak naik.</p>
<p>Dan seperti malam kemarin, atau malam seminggu yang lalu, dan juga malam setahun yang lalu, sangat sulit saya bagi untuk segera beranjak tidur.</p>
<p><em>Dan kini teh hitam dalam cangkir tembus pandang ini sudah tak bersisa keberadaanya.</em></p>
<p>Apa sebenarnya yang sedemikian berharga bagi saya untuk selalu dipikirkan, sehingga membuat saya enggan untuk terlelap karena berharap selalu memikirkannya?. Saya mencoba mengurai. Dan saya akan menerima kekosongan. Tidak menemukan jawabnya.</p>
<p>Tapi saat ini saya ingin mengingat Bapak, sosok laki-laki yang telah meniadakan hadirnya selama hampir 25 tahun. Entahlah, tiba-tiba saya sedemikian merindunya. Merindu untuk sekedar berada di sampingnya. Menemaninya menghisap rokok kretek dan menyeruput kopi hitam tanpa gula yang dituangkan ke dalam sebuah piring.</p>
<p><em>Dan saat ini sudut kedua mata saya membasah.</em></p>
<p>Beberapa hari menjelang malaikat-Nya menjemput Bapak, saya tidak bisa mengurai lagi kata. Seolah Bapak terbelenggu dalam fase terakhir dalam hidupnya. Meski demikian, sekedar usapan pada dahinya atau menggenggam tangannya yang kekar, atau memandang wajahnya, cukup bagi saya untuk menyampaikan kata : Saya menyayangi Bapak. Dan seperti hari sebelumnya Bapak tidak mengeluarkan kata-kata yang ingin saya dengar.</p>
<p><em>Dan mata ini semakin membasah.</em></p>
<p>Bapak orang yang sangat sederhana, dan cenderung pendiam. Dan selama hampir 12 tahun mengenalnya, tak satupun kata kasar yang keluar dari mulutnya. Dia sangat tegar, dan pantang menyerah kepada nasib. Sifat itulah yang membuatnya menolak saya untuk memapahnya saat kami berjalan di pekarangan rumah, di kampung Bapak. Bapak seharusnya memang saya papah karena sebagian fungsi tubuhnya tidak berfungsi akibat kelumpuhan yang dideritanya. Kelumpuhan yang terjadi secara tiba-tiba, usai sahur bersama.</p>
<p>Saat Bapak pergi untuk selamanya, saya tidak ada di samping Bapak. Karena sehabis subuh dan selepasnya membacakan surat Yasin, Emak menyuruh kami, anak-anaknya untuk berkabar kepada sanak saudara kami. Kabar apa yang harus kami sampaikan ?. Emak hanya berkata : &#8220;katakan kepada mereka untuk hadir menemani Bapak&#8221;.</p>
<p>Untuk anak usia 12 tahun, saya belum mampu untuk mendalami perkataan Emak. Tapi kami tidak membantah. Kami melangkahkan kaki keluar rumah dan meninggalkan Emak yang masih mengumandangkan ayat-ayat Illahi.</p>
<p>Pada akhirnya saya bisa mengerti maksud perkataan Emak, saat saya melihat Bapak telah terkujur dan tubuhnya ditutupi selembar kain. Saya hanya memandangi Bapak, untuk kemudian akhirnya meninggalkannya sendiri di tanah wakaf keluarga.</p>
<p><em>Saya terpaksa mengakhiri tulisan ini, karena saya ingin segera terlelap dan membawa Bapak bersama tidur saya.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2011/02/15/tentang-bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langit</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2010/09/20/langit/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2010/09/20/langit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 12:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu matahari bersinar cukup terik, dan langit membentang dengan cerahnya. Aktifitas terakhir hari itu seharusnya bermain tenis di bilangan Patra Kuningan, sebelum saya kembali ke tempat saya sementara di seberang sana.
Kendaraan saya lajukan dengan kecepatan 40 km/jam, perlahan saja. Langit di hadapan saya benar-benar terbentang dengan indah. Beruntung saya membawa kamera, yang hampir 9 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu matahari bersinar cukup terik, dan langit membentang dengan cerahnya. Aktifitas terakhir hari itu seharusnya bermain tenis di bilangan Patra Kuningan, sebelum saya kembali ke tempat saya sementara di seberang sana.</p>
<p>Kendaraan saya lajukan dengan kecepatan 40 km/jam, perlahan saja. Langit di hadapan saya benar-benar terbentang dengan indah. Beruntung saya membawa kamera, yang hampir 9 bulan ini menemani perjalanan hidup saya.</p>
<p>Saya beruntung, mendapatkan moment, yang menurut saya, jarang saya saksikan. Jadilah hampir satu jam saya menghabiskan waktu di atas jembatan antara Kuningan dan Menteng, dimana di dekatnya berdiri tegak bangunan-bangunan hutan beton. Diantara bangunan-bangunan tersebut, berdiri perkasa 3 buah apartemen, yang menjulang. Saya menyebutnya 3 towers.</p>
<p><a href="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7211.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-191" title="3 towers" src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7211-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p>Tak jauh dari situ, aliran sungai Ciliwung nampak membelah jalanan ibukota. Sayang sekali, kejernihannya telah tersamarkan oleh polusi dan sampah.</p>
<p><a href="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7254.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-192" title="Membelah " src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7254-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p>Siang itu suasana cukup lengang, mungkin karena hari libur dalam rangka merayakan hari raya Idul Fitri 1431 H. Saya sempat takjub dengan kelengangan saat itu. Tapi sekali lagi, langit yang menyempurnakannya.</p>
<p><a href="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7268.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-193" title="Sudut Jalan" src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7268-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7288.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-194" title="Berdiri tegak" src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7288-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7389.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-195" title="Komposisi" src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7389-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><a href="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7405.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-196" title="Membelah langit" src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/IMG_7405-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p>Yang pasti, saya sangat beruntung bisa menyaksikan keindahan lukisan dari Yang Maha Pencipta di siang hari itu.</p>
<p><em>Semoga saya semakin bersyukur &#8230;&#8230;.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2010/09/20/langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Coke and Sake</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2010/05/07/coke-and-sake/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2010/05/07/coke-and-sake/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 14:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangmamat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol. Belum pernah mencoba dan tidak berpikir untuk mencobanya. Buat saya itu prinsip, terlepas dari nilai-nilai yang melandasinya.
Awalnya rekan-rekan kerja saya mempertanyakan prinsip saya ini. Bukan tanpa dasar mereka bertanya. Karena di sini (dan juga di negara-negara lain, atau bahkan di Jakarta) minuman beralkohol sudah menjadi bagian dari &#8220;gaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol. Belum pernah mencoba dan tidak berpikir untuk mencobanya. Buat saya itu prinsip, terlepas dari nilai-nilai yang melandasinya.</p>
<p>Awalnya rekan-rekan kerja saya mempertanyakan prinsip saya ini. Bukan tanpa dasar mereka bertanya. Karena di sini (dan juga di negara-negara lain, atau bahkan di Jakarta) minuman beralkohol sudah menjadi bagian dari &#8220;gaya hidup&#8221;. <em>Maaf, saya tidak akan melakukan konfrontasi terhadap masalah ini. </em></p>
<p>Adalah suatu hal yang umum dilakukan, saat akhir pekan, atau Jumat malam, rekan-rekan akan berkumpul (tentunya di luar kantor) untuk sekedar melepaskan kepenatan ataupun menjaga kekerabatan. Dan (suatu hal yang wajar juga), mereka akan pergi ke tempat bernama Bar, Coffee Shop, ataupun Food Stall lainnya. Menu yang sama : minuman beralkohol.</p>
<p>Pernah saya diajak untuk sekedar berkumpul, dan karena keengganan saya untuk menolak ajakan rekan-rekan, sayapun menghadirinya. Sesi pemesanan minuman menjadi ajang yang membingungkan untuk saya (dan juga rekan-rekan pada akhirnya). Halaman menu pasti akan langsung saya tuju : Non Alcohol Drinks. Awalnya mereka mengira saya bercanda, tapi demi melihat keseriusan saya, mereka akhirnya percaya. Jadilah malam itu saya memesan orange juice, sementara lainnya bir atau wine.</p>
<p>Tidak mengkonsumsi minuman beralkohol tidak berarti membuat saya menjadi pribadi yang tidak menyenangkan kala berkumpul. Suatu malam, setelah menghabiskan makan malam di restoran yang bernama &#8220;Pepes&#8221; di Takashimaya SC, kami menghabiskan sisa malam di sebuah cafe, juga di bilangan Orchard bernama Wine Factory. Segera saja, sparkling, red wine, white wine, ataupun minuman yang sejenisnya, silih berganti menghampiri meja kami. Waktu berjalan demikian lambat, sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri malam itu (tepatnya dini hari) pada pukul 1. Hasilnya akhir adalah saya mengkonsumsi minuman paling banyak, 7 gelas air mineral. <img src='http://www.bintangmamat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Buat saya hal tersebut tidak mengganggu saya. Sekedar menemani rekan untuk duduk bersantai, buat saya bukan hal yang tabu.</p>
<p>Saya beruntung memiliki rekan kerja yang cukup bertoleransi. Ketika akan diadakan malam kekerabatan, EO acara tersebut meminta pendapat saya mengenai pemilihan lokasi (karena mengetahui &#8220;keterbatasan&#8221; saya). Buat saya itu merupakan sebuah penghargaan. Akhirnya, jadilah malam itu menjadi arena sake versus coke. Siapa meminum apa, tentunya tidak perlu saya jelaskan lagi kan?.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2010/05/07/coke-and-sake/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alas Kaki</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2010/05/03/alas-kaki-2/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2010/05/03/alas-kaki-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 14:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangmamat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Dari lantai 7 sebuah kamar di bilangan Yogyakarta, awal 2010

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari lantai 7 sebuah kamar di bilangan Yogyakarta, awal 2010</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-167 aligncenter" title="Alas Kaki" src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG_1295-300x200.jpg" alt="Alas Kaki" width="350" height="233" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2010/05/03/alas-kaki-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan(an)</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2010/05/02/makanan/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2010/05/02/makanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 16:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangmamat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Banquet]]></category>
		<category><![CDATA[Clifford]]></category>
		<category><![CDATA[Emak]]></category>
		<category><![CDATA[Halal]]></category>
		<category><![CDATA[Qiji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Saya termasuk pemakan segala, kecuali (tentunya yang dilarang) daging kambing. Jangankan memakannya, mencium aromanya saja saya sudah pasti menjadi pusing. Alasan itu pula yang membuat Emak, setiap Idul Adha, membeli daging sapi untuk dimakan bersama-sama anggota keluarga lainnya.
Mencari makanan halal, di sekitar kantor saya, sebenarnya tidak terlalu sulit. Beberapa tempat seperti Banquet di Clifford Building [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya termasuk pemakan segala, kecuali (tentunya yang dilarang) daging kambing. Jangankan memakannya, mencium aromanya saja saya sudah pasti menjadi pusing. Alasan itu pula yang membuat Emak, setiap Idul Adha, membeli daging sapi untuk dimakan bersama-sama anggota keluarga lainnya.</p>
<p>Mencari makanan halal, di sekitar kantor saya, sebenarnya tidak terlalu sulit. Beberapa tempat seperti<strong> Banquet</strong> di <strong>Clifford Building</strong> atau food court di <strong>Golden Shoes</strong>, menyajikan makanan halal. Bahkan khusus untuk Banquet, mereka menggunakan slogan : <strong>We Serve Halal Food</strong>. Luar biasa buat saya.</p>
<p>Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah masalah rasa. Nah, inilah yang saya rasa teramat sangat (mungkin saya agak berlebihan) sulit untuk mendapatkannya. Memang tersedia pilihan nasi padang, ayam penyet, soto ayam, atau bahkan nasi goreng, tapi soal rasa, entahlah. Lidah saya ini masih belum bisa mengiyakan ataupun menyetujuinya. Terlebih lagi kalau menunya sudah menggunakan kari. Saya memilih untuk tidak mengkonsumsinya.</p>
<p>Rasanya benar-benar berbeda dibandingkan dengan yang saya rasakan di Jakarta (atau Tangerang, tempat kelahiran saya). Kalau saya boleh mengutip slogan iklan dari salah satu produk, maka &#8221; soal rasa, lidah tidak pernah bohong &#8220;, tampaknya cukup mewakili saya.</p>
<p>Yang rasanya masih bisa saya terima mungkin hanya makanan di restoran <strong>Qi Ji</strong>, dengan menu nasi lemak atau laksa, ataupun <strong>Warung Ananas</strong> yang hanya melayani makanan untuk dibawa pulang, keduanya berada di <strong>Tiong Bahru Plaza</strong>, dekat tempat tinggal saya. Walhasil, saya banyak melewati makan malam saya di kedua tempat itu.</p>
<p>Kalau situasi sudah sangat sulit buat saya, maka saya akan mengeluarkan jurus pamungkas saya : <strong>Rendang</strong> dan<strong> balado teri</strong> buatan si Emak, yang sudah pasti dan tak asing lagi, dapat memuaskan hasrat saya (akan memakan makanan yang enak) dengan sangat sukses. Yup, kedua menu tersebut memang sengaja disiapkan oleh si Emak tercinta untuk mengiringi keberangkatan (salah satu) putranya tercinta ini ke negeri seberang.</p>
<p>Soal makanan, si Emak memang tidak main-main. Mendengar saya akan pulang akhir bulan May, si Emak sudah menyiapkan sederetan menu untuk saya bawa. Saya dengan sangat terpaksa tidak akan (pernah) menolak. Apalagi ada tambahan menu balado paru. Yummy.</p>
<p>So, Emak, anakmu (akan) pulang. Menemuimu (dan juga membawa makananmu pastinya).</p>
<p><strong><em>Next story : Coke dan Sake</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2010/05/02/makanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Helix</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2010/04/25/the-helix/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2010/04/25/the-helix/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 15:58:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangmamat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_140" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img class="size-large wp-image-140  " title="The Helix" src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2010/09/helix.jpg" alt="The Helix" width="550" height="366" /><p class="wp-caption-text">a bridge that connecting Marina Bay and Marina South</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2010/04/25/the-helix/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Perjalanan (dimulai)</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2010/04/24/sebuah-perjalanan-dimulai/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2010/04/24/sebuah-perjalanan-dimulai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 09:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangmamat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Saya selalu berusaha untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan. Apapun dan seberapa besar itu. Sama seperti ketika 2 bulan yang lalu, saat kabar itu datang kepada saya, a secondment in other branch. Tidak pernah menduga sebelumnya, bahwa saya (kembali) diberikan nikmat sedemikian besar.
Setelah ucapan syukur dalam hati, jari saya segera mencari satu nama dalam list [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu berusaha untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan. Apapun dan seberapa besar itu. Sama seperti ketika 2 bulan yang lalu, saat kabar itu datang kepada saya, <em>a secondment in other branch.</em> Tidak pernah menduga sebelumnya, bahwa saya (kembali) diberikan nikmat sedemikian besar.</p>
<p>Setelah ucapan syukur dalam hati, jari saya segera mencari satu nama dalam list iPhone saya : <em>rumah emak</em>. Tak berbeda dengan apa yang saya rasakan, segera saja kata syukur kembali terucap. Untuk seseorang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan (in literary, no offense meaning), maka apa yang dikatakan oleh wanita (yang biasa saya panggil Emak), sangat luar biasa terdengar. &#8220;Kesempatan tidak pernah datang dua kali, syukuri, dan jalani dengan sebaik-baiknya &#8220;.</p>
<p>Tidak mudah bagi saya untuk menjalani &#8220;kehidupan&#8221; baru ini. Banyak hal yang saya tinggalkan, walaupun tak tertutup kemungkinan banyak hal baru yang (mungkin) akan saya dapatkan. Sebuah pengalaman yang berharga. <em>Priceless</em>.</p>
<p>Hari ini, hampir 1 bulan saya meninggalkan rumah. Rumah dimana ada kehidupan yang sudah 4 dekade saya jalani. Rumah dimana ada suka, duka, tawa, tangis, juga senyum. Rumah dimana saya merasa, saya memiliki hidup.</p>
<p>Banyak hal baru yang memang saya dapatkan. Awal yang kurang menyenangkan, kelelahan yang mendera, atau bahkan sekedar harapan yang terpatahkan, mengawali hari-hari saya.</p>
<p>Semua diawali dengan satu langkah kecil, untuk kemudian bisa menjadi jejak, dan akhirnya kita bisa berlari. Perlahan, namun pasti, segala duri tersebut mulai berganti menjadi hijau daun, semerbak bunga, ataupun kesegaran embun pagi.</p>
<p>Seorang sahabat pernah berkata, bahwa hidup adalah perjuangan. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.</p>
<p>Untuk semua yang (sementara) saya tinggalkan, ucapan terima kasih atas segala doa dan dukungannya.</p>
<p>Untuk bintang, sayapun percaya, sinarmu tetap memberi terang kepada kelam malam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2010/04/24/sebuah-perjalanan-dimulai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikah, &#8230;. lalu ?</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2010/01/12/menikah-lalu/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2010/01/12/menikah-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 03:29:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangmamat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan yang nyaris sama, walaupun dibumbui dengan kata-kata tambahan, sering ditujukan kepada saya : Kapan Menikah ?.
Reaksi saya akan bermacam-macam mendengar pertanyaan tersebut.
Tersenyum, tertawa, tak bereaksi, memberikan jawaban, atau bahkan marah adalah sederetan reaksi, yang seingat saya, pernah saya berikan.
Sebuah iklan yang saat ini sering muncul di media elektronik, sedikit memberikan angin segar, atau kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan yang nyaris sama, walaupun dibumbui dengan kata-kata tambahan, sering ditujukan kepada saya : <strong>Kapan Menikah ?.</strong></p>
<p>Reaksi saya akan bermacam-macam mendengar pertanyaan tersebut.</p>
<p>Tersenyum, tertawa, tak bereaksi, memberikan jawaban, atau bahkan marah adalah sederetan reaksi, <em>yang seingat saya</em>, pernah saya berikan.</p>
<p>Sebuah iklan yang saat ini sering muncul di media elektronik, sedikit memberikan angin segar, <em>atau kalau boleh saya beranggapan</em>, akan memberikan alternatif reaksi yang akan saya berikan.</p>
<p>Dalam setting tersebut, <strong>”Kapan Menikah?”</strong> adalah pertanyaan awalnya. Selanjutnya muncul pertanyaan-pertanyaan lain, <em>yang bila iklan tersebut tidak memiliki batasan durasi</em>, saya yakin tidak akan pernah berhenti.</p>
<p>Satu kesimpulan yang bisa saya dapatkan : pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah <strong>pertanyaan yang tak berkesudahan</strong> alias <strong><em>never ending questions !!</em></strong>.</p>
<p>Dalam beberapa kesempatan, saya mengajukan pertanyaan tandingan kepada rekan-rekan yang sudah menikah : <strong>Kenapa Menikah ?</strong></p>
<p>Giliran saya yang tersenyum dengan reaksi-reaksi yang diberikan. Yang pasti, semua reaksi diawali dengan <strong>terdiam</strong>, <strong>seolah merenung</strong>, atau seraya <strong>membelalakan mata</strong>.</p>
<p>Baru kemudian bergulir jawaban-jawaban dari mereka.</p>
<p>” Karena ibadah &#8230; ”</p>
<p>” Sudah lama berpacaran ”</p>
<p>” Ingin mendapatkan keturunan ”</p>
<p>” Ingin memiliki teman hidup ”</p>
<p>” Tidak bisa hidup sendiri ”</p>
<p>” Penyaluran kebutuhan biologis ”.</p>
<p>Bervariasi dan menarik, itu yang terlintas menilik jawaban-jawaban yang diberikan.</p>
<p>Terlepas dari apapun reaksi dan jawaban yang diberikan, semua memiliki alasan masing-masing. Kita bisa setuju ataupun tidak menyetujui. Semua punya hak yang sama dalam hal ini.</p>
<p>Tapi ada jawaban yang sangat menggelitik saya dari salah seorang rekan  : <strong>” &#8230; tidak ada penderitaan yang lebih berat dibandingkan  sebuah pernikahan &#8230; ” </strong><em>(tanpa mengurangi rasa hormat, identitas rekan saya ini akan saya rahasiakan).</em></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Mamat, 13 Jan 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2010/01/12/menikah-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbatik kita jaya !</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2009/10/07/berbatik-kita-jaya/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2009/10/07/berbatik-kita-jaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 08:32:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangmamat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pictures]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2009/10/l_1000_715_B29CCF8A-C27D-4765-BA59-8303AEAE7093.jpeg"><img class="size-full wp-image-364 aligncenter" src="http://www.bintangmamat.com/wp-content/uploads/2009/10/l_1000_715_B29CCF8A-C27D-4765-BA59-8303AEAE7093.jpeg" alt="" width="300" height="214" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2009/10/07/berbatik-kita-jaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dalam kamar</title>
		<link>http://www.bintangmamat.com/2009/10/07/dalam-kamar/</link>
		<comments>http://www.bintangmamat.com/2009/10/07/dalam-kamar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 06:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangmamat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bintangmamat.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Sebatang rokok terbakar dalam ruangan yang sempit, asapnya mengepul memenuhi langit-langit yang rendah.
Jendela kecil, yang bertutupkan selembar kain perca kusam, membuka. Memberi sedikit ruang untuk asap
bergerak memudar.
Bibir yang menghitam masih berusaha menghisap batang rokok yang semakin memendek.
Helaan nafas terdengar sangat berat. Sesekali batuk terdengar.
Tak ada air mata saat ini. Walaupun sudut matanya telah membasah.
Bayangan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebatang rokok terbakar dalam ruangan yang sempit, asapnya mengepul memenuhi langit-langit yang rendah.<br />
Jendela kecil, yang bertutupkan selembar kain perca kusam, membuka. Memberi sedikit ruang untuk asap<br />
bergerak memudar.</p>
<p>Bibir yang menghitam masih berusaha menghisap batang rokok yang semakin memendek.<br />
Helaan nafas terdengar sangat berat. Sesekali batuk terdengar.</p>
<p>Tak ada air mata saat ini. Walaupun sudut matanya telah membasah.<br />
Bayangan tentang dia senantiasa bergerak dalam pelupuk mata.</p>
<p>Aku, laki-laki, tidak menangis.<br />
Walaupun kehilangan atas sosok semampainya tak mampu ku hindari.<br />
Dia pasti menangis.</p>
<p>Aku, laki-laki, tidak tersedu dalam nafas yang sesak.<br />
Walau keparauan ini hampir membuatku menggila.<br />
Dia pasti tersedu.</p>
<p>Aku, laki-laki, tidak menyemburatkan aura sepi.<br />
Walau separuh jiwanya lenyap, hilang, tak membekas.<br />
Dia pasti merasa sepi.</p>
<p>Tapi, aku, laki-laki, juga terluka.<br />
Luka yang harus ku rangkul sebagai balasan atas kepengecutanku untuk memberinya kepastian.<br />
Luka yang harus terbuka karena bibirku tak sanggup menuruti maksud hati.</p>
<p>Sayangku, akupun terluka.<br />
Tidakkah kau mengerti?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bintangmamat.com/2009/10/07/dalam-kamar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

