Teh hitam di dalam cangkir ini mulai berkurang isinya. Teh yang sejak satu jam lalu sengaja saya buat untuk sekedar menghangatkan malam saya. Musin hujan sudah berlalu seminggu sebelumnya, tetapi entah mengapa angka di alat pengukur suhu ini masih juga belum beranjak naik.
Dan seperti malam kemarin, atau malam seminggu yang lalu, dan juga malam setahun yang lalu, sangat sulit saya bagi untuk segera beranjak tidur.
Dan kini teh hitam dalam cangkir tembus pandang ini sudah tak bersisa keberadaanya.
Apa sebenarnya yang sedemikian berharga bagi saya untuk selalu dipikirkan, sehingga membuat saya enggan untuk terlelap karena berharap selalu memikirkannya?. Saya mencoba mengurai. Dan saya akan menerima kekosongan. Tidak menemukan jawabnya.
Tapi saat ini saya ingin mengingat Bapak, sosok laki-laki yang telah meniadakan hadirnya selama hampir 25 tahun. Entahlah, tiba-tiba saya sedemikian merindunya. Merindu untuk sekedar berada di sampingnya. Menemaninya menghisap rokok kretek dan menyeruput kopi hitam tanpa gula yang dituangkan ke dalam sebuah piring.
Dan saat ini sudut kedua mata saya membasah.
Beberapa hari menjelang malaikat-Nya menjemput Bapak, saya tidak bisa mengurai lagi kata. Seolah Bapak terbelenggu dalam fase terakhir dalam hidupnya. Meski demikian, sekedar usapan pada dahinya atau menggenggam tangannya yang kekar, atau memandang wajahnya, cukup bagi saya untuk menyampaikan kata : Saya menyayangi Bapak. Dan seperti hari sebelumnya Bapak tidak mengeluarkan kata-kata yang ingin saya dengar.
Dan mata ini semakin membasah.
Bapak orang yang sangat sederhana, dan cenderung pendiam. Dan selama hampir 12 tahun mengenalnya, tak satupun kata kasar yang keluar dari mulutnya. Dia sangat tegar, dan pantang menyerah kepada nasib. Sifat itulah yang membuatnya menolak saya untuk memapahnya saat kami berjalan di pekarangan rumah, di kampung Bapak. Bapak seharusnya memang saya papah karena sebagian fungsi tubuhnya tidak berfungsi akibat kelumpuhan yang dideritanya. Kelumpuhan yang terjadi secara tiba-tiba, usai sahur bersama.
Saat Bapak pergi untuk selamanya, saya tidak ada di samping Bapak. Karena sehabis subuh dan selepasnya membacakan surat Yasin, Emak menyuruh kami, anak-anaknya untuk berkabar kepada sanak saudara kami. Kabar apa yang harus kami sampaikan ?. Emak hanya berkata : “katakan kepada mereka untuk hadir menemani Bapak”.
Untuk anak usia 12 tahun, saya belum mampu untuk mendalami perkataan Emak. Tapi kami tidak membantah. Kami melangkahkan kaki keluar rumah dan meninggalkan Emak yang masih mengumandangkan ayat-ayat Illahi.
Pada akhirnya saya bisa mengerti maksud perkataan Emak, saat saya melihat Bapak telah terkujur dan tubuhnya ditutupi selembar kain. Saya hanya memandangi Bapak, untuk kemudian akhirnya meninggalkannya sendiri di tanah wakaf keluarga.
Saya terpaksa mengakhiri tulisan ini, karena saya ingin segera terlelap dan membawa Bapak bersama tidur saya.
Filed under: Stories
aaaaaaah tulisanmuuu bikin aku sedihhh