Coke and Sake

May 7th, 2010

Saya tidak mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol. Belum pernah mencoba dan tidak berpikir untuk mencobanya. Buat saya itu prinsip, terlepas dari nilai-nilai yang melandasinya.

Awalnya rekan-rekan kerja saya mempertanyakan prinsip saya ini. Bukan tanpa dasar mereka bertanya. Karena di sini (dan juga di negara-negara lain, atau bahkan di Jakarta) minuman beralkohol sudah menjadi bagian dari “gaya hidup”. Maaf, saya tidak akan melakukan konfrontasi terhadap masalah ini.

Adalah suatu hal yang umum dilakukan, saat akhir pekan, atau Jumat malam, rekan-rekan akan berkumpul (tentunya di luar kantor) untuk sekedar melepaskan kepenatan ataupun menjaga kekerabatan. Dan (suatu hal yang wajar juga), mereka akan pergi ke tempat bernama Bar, Coffee Shop, ataupun Food Stall lainnya. Menu yang sama : minuman beralkohol.

Pernah saya diajak untuk sekedar berkumpul, dan karena keengganan saya untuk menolak ajakan rekan-rekan, sayapun menghadirinya. Sesi pemesanan minuman menjadi ajang yang membingungkan untuk saya (dan juga rekan-rekan pada akhirnya). Halaman menu pasti akan langsung saya tuju : Non Alcohol Drinks. Awalnya mereka mengira saya bercanda, tapi demi melihat keseriusan saya, mereka akhirnya percaya. Jadilah malam itu saya memesan orange juice, sementara lainnya bir atau wine.

Tidak mengkonsumsi minuman beralkohol tidak berarti membuat saya menjadi pribadi yang tidak menyenangkan kala berkumpul. Suatu malam, setelah menghabiskan makan malam di restoran yang bernama “Pepes” di Takashimaya SC, kami menghabiskan sisa malam di sebuah cafe, juga di bilangan Orchard bernama Wine Factory. Segera saja, sparkling, red wine, white wine, ataupun minuman yang sejenisnya, silih berganti menghampiri meja kami. Waktu berjalan demikian lambat, sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri malam itu (tepatnya dini hari) pada pukul 1. Hasilnya akhir adalah saya mengkonsumsi minuman paling banyak, 7 gelas air mineral. :) .

Buat saya hal tersebut tidak mengganggu saya. Sekedar menemani rekan untuk duduk bersantai, buat saya bukan hal yang tabu.

Saya beruntung memiliki rekan kerja yang cukup bertoleransi. Ketika akan diadakan malam kekerabatan, EO acara tersebut meminta pendapat saya mengenai pemilihan lokasi (karena mengetahui “keterbatasan” saya). Buat saya itu merupakan sebuah penghargaan. Akhirnya, jadilah malam itu menjadi arena sake versus coke. Siapa meminum apa, tentunya tidak perlu saya jelaskan lagi kan?.

Filed under: Stories

One Comments to “Coke and Sake”

  1. ndah says:

    saluuut !!!
    di era seperti ini, masi ada yang kek mas mamat *senyum*

Leave a Reply

(required)

(required)