Ingatlah Hari Ini

6 Oktober 2015, pukul 11.15 WIB.

Di sela rutinitas, saya memandangi website yang terbuka di hadapan saya, www.nusantarun.com. Perhatian tertuju ke tanggal registrasi yang hari itu sudah mencapai hari terakhir.

Keraguan terbesar memuncak. Saya, yang biasanya memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi, tertegun dalam diam saat itu.

135 km bukanlah jarak yang pendek. Bukanlah perjuangan yang mudah dan kamu tidak memiliki bekal untuk berlari sejauh itu.

Telepon berdering.

Ini sebuah kegiatan yang baik. Sebuah kegiatan yang memberikan manfaat kepada sesama. Tuhan memberikan kita 2 tangan, agar kita lebih banyak berbuat, dibandingkan sekedar berbicara.

Sebuah e-mail masuk. Urgent. Saya harus membalasnya.

Waktu istirahat akan segera datang dalam 30 menit ke depan, ketika akhirnya jari-jari saya mengisi form pendaftaran Nusantarun Chapter 3.

 

10 Oktober 2015, pukul 10.50 WIB.

SELAMAT !!!

Anda terpilih untuk menjadi pelari dalam NusantaRun Chapter 3 Kategori Relay.

 

1 November 2015, pukul 11.50 WIB.

Jurian Andika :

Mat

Partnerlo Jala Seskananto.

ps : Jurian Andika, salah satu orang hebat dibalik NusantaRun, yang saya kenal setahun lalu saat mengikuti BTS.

 

9 November 2015, pukul 8.27 WIB

@bintangmamat :

Mas Alan

Saya Topik NR3

Menurut Mas Jurian kita partner an nih

@alanjala :

Wiiih siap

Akhirnya dapat partner juga

Hehehehe

 

3 November 2015, pukul 9.26 WIB.

Untuk kesekian kalinya, saya melakukan sharing kepada rekan-rekan saya mengenai NusantaRun Chapter 3. Aktifitas yang dilakukan oleh semua peserta, melalui jalur komunikasi apapun yang bisa dipergunakan, baik online maupun offline.

Sebuah balasan pesan saya terima dari salah seorang rekan : “ Jangan terlalu memaksa Mat, nyarinya sehat aja, bukan ambisi atau gengsi, kecuali emang kita atlit. Inget umur ! “.

Saya hanya tersenyum, seraya membalas : “Gue ambil positifnya dari komentar elu yah”.

Memang tidak mudah berbagi kebaikan. Tetapi saya percaya, semua niatan yang baik, Insya Allah akan dipermudah.

Banyak yang terjadi setelah tanggal itu. Ada yang membuat telinga cukup memerah bila mendengarnya, tapi tak sedikit yang membuat tekad saya semakin bulat dan kuat.

Perasaan saya semakin bergemuruh menjelang hari H.

 

18 Desember 2015, pukul 13.15 WIB.

Kendaraan yang saya tumpangi mulai bergerak dari bilangan Sudirman Jakarta, menuju Bandung. Ibukota dari Propinsi Jawa Barat yang akan menjadi awal dari Nusantarun Chapter 3 ini. Beberapa rekan (yang kebanyakan baru saya kenal) pun sudah mulai bertolak menuju titik yang sama, Kantor Walikota Bandung.

Antusiasme dari semua pihak yang tergabung dalam running movement ini sangat besar.Bagi saya, memberikan tambahan semangat, yang memang sangat saya butuhkan.

 

18 Desember 2015, pukul 22.45 WIB.

Rombongan pelari kategori full dan pelari pertama kategori relay mulai melangkahkan kaki dengan bersemangat. Seiringin lambaian bendera start yang diangkat oleh Kang Emil, Walikota Bandung (hatur nuhun sawangsulna Kang).

Orang-orang hebat menyusuri jalan, dengan sebuah tujuan baik, berbagi dengan sesama.

 

19 Desember 2015, pukul 10.10 WIB.

Rekan saya dalam kategori relay baru saya mencapai finish, Check Point (CP) 4 yang berada di KM 58. Terlihat lelah, tapi gurat bahagia tergambar jelas. Ada kebanggaan bagi dirinya untuk menutup langkah di bawah garis finish. Senyum bahagia anak-anak Indonesia membahana.

Saya mulai berlari, 10 menit kemudian.

 

19 Desember 2015, pukul 11.40 WIB.

Kedua kaki saya menapaki aspal yang cukup panas saat itu, bersama dengan seorang rekan. Pemandangan yang jarang saya lihat terhampar di sisi kiri dan kanan jalur yang kami lewati, bergantian dengan deru kendaraan bermotor. Tujuan kami adalah CP 5, yang berjarak lebih kurang 18 km dari CP4 atau di KM 76.

Terkadang hadir pembicaraan singkat namun bermakna. Berbagi cerita. Tetapi tak jarang pula hanya deru nafas yang saya dengar.

Ketika beberapa kilometer terjejak oleh kedua kaki saya, malang tak dapat ditolak, kedua kaki saya terkilir, karena menapaki permukaan yang tidak rata. Saya berhenti sejenak, demikian pula rekan saya (terima kasih Mas Nugi atas kesabarannya).

Selang tak berapa lama, kamipun kembali berlari. Walaupun beberapa kilometer setelah itu kami berdua terduduk, menikmati kelapa muda, yang entah bagaimana, menjadi minuman yang teramat sangat nikmat. I said, heaven !!.

Pembicaraan ringan kembali terjadi. Sampai akhirnya kami kembali menapaki jalan.

Buah dari latihan yang kurang maksimal, membuat saya lebih banyak berlari denga pace lambat, dimana beberapa rekan menyebutnya sebagai pace romantis. Saya hanya berpikir, alon alon sing penting kelakon (pembelaan klasik).

Dalam beberapa menit, Mas Nugi telah berlari jauh di depan saya.

Perlahan saya mendekatkan jarak dengan CP 5, di KM 76. Berdasarkan informasi, CP tersebut akan berlokasi di Rumah Makan Padang !.

Barisan menu mulai berjajar dalam benak saya. Tunjang, ayam bakar (for sure), cumi kari, jengkol (if I’m lucky enough), perkedel, ayam pop, dan sayur daun singkong dengan taburan sambal hijaunya.

It works for me. Saya semakin percaya diri untuk berlari. Oh iya, saya ingin menambah nasi juga.

Ah, tapi takdir berkata lain, ternyata Tuhan punya rencana lain di CP 5.

Sejenak saya melupakan barisan menu yang perlahan namun pasti memudar, seperti layaknya asap dari pembakaran sampah di depan rumah yang kerap saya lakukan beberapa belas tahun silam di rumah Nyai (Nenek) saya.

Teman saya pernah berkata, when God closes a door, He opens a window. Here it goes, I got the window.

Barisan orang-orang hebat lainnya yang tergabung dalam team relawan, bekerja dengan suka hati, suka rela dan penuh semangat, menyambut kami dengan kehangatan. Lelah saya lenyap (pun demikian dengan barisan menu dalam benak saya).

Mereka tidak kenal saya dan saya pun belum mengenal mereka, tetapi apa yang mereka lakukan telah membuat saya mengubah makna dari sebuah kepedulian. Kepedulian terhadap sesama.

Saya beristirahat , dengan beberapa rekan lainnya. Tak berapa lama saya mendapatkan treatment untuk kedua kaki saya, mulut dan perut dan juga jiwa saya.

 

19 Desember 2015, pukul 14.15 WIB.

Saya meninggalkan CP 5, dengan diiringi gegap gempita orang-orang hebat. Saya membalas mereka dengan ucapan terima kasih dan tentunya dengan senyum manis yang terhias dan dibumbui lesung pipit andalan.

Oiya, kali ini saya diiringi oleh marshall sepeda.

Tujuan berikutnya adalah CP 6, yang berjarak lebih kurang 13 km ke CP 6. Kenapa saya menggunakan kata “lebih kurang” ?, karena kepastian hanya milik Tuhan. Oiya, CP 6 ini akan berada di KM 89.

Cuaca bersahabat sore itu. Kendaraan bermotor lalu lalang dengan intensitas sedang. Dan drama seru dalam batin saya dimulai disini.

Kedua kaki saya kembali terasa nyeri, saya tidak mampu membawanya berlari. Akhirnya saya hanya berjalan. Benar-benar berjalan. B E R J A L A N.

Saya dilewati oleh beberapa peserta lainnya. Mereka meninggalkan senyum. Saya melambaikan tangan, tetapi tidak ke kamera, karena ini bukan acara uji nyali.

“Lari darimana Pak?”. Beberapa orang di pinggir jalan sempat bertanya.

“Dari Bandung Pak”.

“Terus mau lari sampai mana?” lanjutnya

“Sampai Cirebon, Pak”.

“Masya Allah, jauh juga yah”.

Dalam hati saya hanya bergumam, masih lebih jauh jarak hatiku ke hatinya Pak.

Marshall sepeda tetap mendampingi saya, walaupun, karena merasa tidak enak hati dengan kelambatan saya sendiri, saya sudah meminta beliau untuk melaju terlebih dahulu. Tapi beliau menolak, seraya berkata “tugas kami adalah mendampingi pelari Pak, sampai finish”.

Saya terharu. Saking terharunya, saya mampir ke Indomaret, untuk mendinginkan diri. Dan tentunya membeli minuman isotonik yang hits seantero negeri itu, untuk diberikan kepada Pak Marshall.

Tapi beliau menolak. Duh Gusti, tidak hanya perempuan, ternyata lelakipun menolak saya.

Saya sedih. Sekelebat muncul sosok Cita Citata, sambal berdendang  ‘Sakitnya tuh disini, di dalam hatiku’ (dengan gaya duduk di ayunan, dan telapak kanan kanan disentuhkan ke bagian kiri atas dari dada).

Tapi yang membuat saya lebih sedih adalah kejadian di sekitar KM 82, dimana saya mulai mempertanyakan kembali makna hidup saya dan juga menanyakan kenapa saya mau berlari sejauh ini. Saya down saat itu. Karena lelah dan juga karena saya tidak mampu berlari.

Kemudian sebuah skenario bergulir di benak saya : (1) Saya akan mengundurkan diri, (2) Memohon maaf kepada para pendukung acara termasuk para donator dan (3) Menikmati empal gentong.

Tapi kemudian saya bertanya kembali kepada diri saya, jika saya diperkenankan untuk mengundurkan diri, lalu (1) Bagaimana caranya saya sampai ke Cirebon? Kan belum tentu panitia memiliki ruang di kendaraan mereka dan (2) Apakah warung empal gentong masih buka?.

Kemudian saya lelah sendiri. Hening. Air mata menggenang di kedua sudut mata saya.

Apakah kalian pernah merasa bahwa God works in mysterious way?. It happened. Ketika saya mencapai kelelahan fisik dan psikis di sekitar 2 km menjelang CP 6, saya melihat tulisan yang tertempel di pohon yang berada di kiri jalan. Lebih kurang berbunyi “Fokus dengan tujuan awal anda untuk berlari. Tetap Jaga Diri”.

And yes, just like that, saya merasa tertampar. Seorang Mamat tidak seperti ini. Seorang Mamat adalah sosok tangguh yang mampu melakukan segala sesuatu dengan tuntas. Bagi yang ingin tau kenapa tiba-tiba tokoh Mamat muncul dalam kisah ini, silakan klik link ini.

Perlahan namun pasti saya kembali memiliki semangat untuk berlari (atau berjalan). Perlahan, namun pasti. Dan Pak Marshall sepeda masih mendampingi saya.

Saya tersenyum lebar, ketika tampak di depan saya ada sebuah SPBU yang bertuliskan CP 6, diiringi dengan sorak sorai gembira para orang hebat lainnya.

Saya semakin bersemangat. Semakin B E R S E M A N G A T. Tetap berjalan. Terus berjalan, menuju sumber suara.

“Pak, lari dong, jangan jalan” teriak seorang sopir truk yang melaju dengan kecepatan 60km / jam.

Abaikan.

Ada orang-orang hebat di hadapan saya.

10 menit kemudian, saya terlelap dalam tidur. Tersenyum. Seraya bermimpi tentang sopir truk yang berteriak ke saya sebelumnya.

 

19 Desember 2015, pukul 19.45 WIB.

Next destination, CP 7.

Kembali saya BERJALAN menyusuri jalan utama, di malam minggu ceria. Catat, MALAM MINGGU. Bersama seorang rekan yang baru saya kenal.

“Lari bareng yah?” ajak saya. “Pace Romantis yah”.

“Oke, Pace Romantis yah. Tapi gue mau romantis sama elu yah”. Jawabnya.

Duh Gusti, saya ditolak lagi.

Tak lama berselang kami kembali berjalan. Bersisian. Banyak cerita yang terjadi. Rekan saya ini ternyata seorang wirausahawan, penyuka lari dan punya strategi dalam berlari. Dia bercerita banyak tentang pekerjaannya dan juga kecintaannya terhadap lari.

Cerita terus bergulir, dengan semangkuk sop ayam dan pecel lele goreng di hadapan kami.

Pengunjung lain tampak melihat kami berdua dengan takjub. Dua sosok mempesona dengan balutan kaos dry fit merk Nike warna kuning ngejreng dan Kaos Adidas ukuran L berwarna Orange. Keduanya saling berhadapan dengan terpisahkan oleh makanan dan juga air kobokan.

Kami tidak memperdulikan mereka, karena kami lapar. Karena lapar, maka kami makan. Kami Lapar. Titik.

Bayangan menu nasi padang menjelang CP 5 kembali berkelebat di hadapan saya.

Selang hampir satu jam kemudian, kami kembali disambut oleh orang-orang hebat di CP 7.

 

19 Desember 2015, pukul 23.45 WIB.

Kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke CP 8. Hari akan segera berganti.

“Malam minggu ngapain disini Mbak? Meriksain kaki orang pula” tanya saya ke tim dokter di CP 7 yang berlokasi di KM 99.

“Emangnya gak ada yang nyariin?” tanya saya lagi.

Mbak dokter manis tersenyum saja. “Gak kok Pak” imbuhnya singkat. Tapi sambil tersenyum manis.

Saya shock, “saya dipanggil BAPAK”. Saya segera mengecek kartu identitas saya. Dan setuju dengan Mbak dokter manis tadi.

“Mbak, punya obeng gak?” tanya saya memecah keheningan. Maaf, bukan keheningan sih tepatnya, tetapi lebih kepada suasana gegap gempita di tengah malam dengan iringan lagu kebangsaan yang diputar terus menerus tanpa henti.

“Buat apa Pak? Gak punya lah”. Mbak dokter manis tersenyum.

“Tapi kalau nomor handphone ada dong?”

Saya bersyukur, panitia tidak mengijinkan penggunaan suntik bius.

 

Dalam beberapa menit kemudian, suasana mulai sepi. Tidak ada lagi pembicaraan mengenai apapun saat itu. Kami, 6 orang pria dewasa, terdiam dengan langkah gontai. Tetap berjalan.

Entah siapa yang memulai, kemudian kami terkapar di warung kosong di pinggir jalan. Tertidur. Pulas. Dengan sempurna.

Saya tertidur sambil tersenyum, berharap Mbak dokter manis memiliki obeng.

 

20 Desember 2015, pukul 00.30 WIB.

Kami kembali memulai perjalanan berharap segera menemukan CP 8. Halusinasi melihat lampu yang menyala akhirnya membawa kami ke sebuah lokasi tempat penyaluran hasrat manusia yang paling dasar. Kami singgah di ……… Warung Remang-remang, yang menjual Nasi Goreng. Ehmm, ini Warung Makan yah maksudnya.

6 porsi penuh nasi goreng. 6 gelas teh panas, literally, 2 bungkus kerupuk, segera perlahan namun pasti hilang dari hadapan kami.

2 bungkus tolak angin dibuka.

Tak lama berselang, ada 3 orang lain yang bergabung. Kami berbicara tentang hidup dan teori relativitasnya Einstein. Yeah right.

Tiba-tiba muncul pertanyaan kejutan, “Apa yang kita cari?”. Semua tertawa. Oiya, salah satu orang yang datang belakangan tadi, alisnya masih tertata dengan rapih. Salute Sis !.

Saya membuka aplikasi Duel Otak.

 

20 Desember 2015, pukul 01.30 WIB.

Look, it’s a bird.

It’s a plane.

No, it’s a Check Point.

Terbelalak mata kami demi melihat apa yang ada di 200 meter di hadapan. It’s a real CP 8 !, yang berlokasi di KM 113 (seharusnya). Tetapi konon malah berlokasi di KM 109.

Ya, ternyata CP 8 ini lebih kurang 4 km lebih awal dari jarak yang sebelumnya diinformasikan kepada kami.

Kami bersyukur. Kami tertawa. Kami kembali bertemu orang-orang hebat yang bekerja tanpa kenal lelah.

Kemudian kami terlelap. Saya bermimpi tentang alis anti badai.

 

20 Desember 2015, pukul 04.30 pagi.

Kami bergegas meninggalkan CP 8. Jalanan masih gelap. Belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang.

Saya belajar banyak dalam perjalanan menuju CP 9, Check Point terakhir. Kami melakukan interval dengan berlari sepanjang 200 meter dan berjalan sepanjang lebih kurang 500 meter. Dan saya berada di paling belakang.

“Saya ingin menjadi sweeper” dalih saya.

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Wajah-wajah kami mulai nyata terlihat. Lelah, tetapi tetap ada raut bahagia. Luar biasa.

Rombongan menjadi lebih besar. Suasana lebih hidup. Dan kami mendapatkan potongan buah Semangka, yang saat itu terasa seperti caviar goreng tepung.

Ah, saya bahagia. Ternyata banyak orang-orang hebat di sekitar saya. Kami terus berjalan dan berlari menuju Check Point selanjutnya.

Bersemangat.

“Tolong saya, blister” kalimat pertama saya begitu menapaki CP 9 yang berlokasi di Batik Trusmi atau di KM 121.

“Udah check in belum?” tanya seorang Mbak-mbak yang duduk di balik tiang. Saya yakin, itu Mbak-mbak deh.

Saya didampingi oleh orang-orang hebat lagi. Yang bekerja dengan hati yang gembira.

Mereka tidak peduli dengan aroma badan dan kaki saya. Mereka tetap memegang kaki saya dengan lembut, kadang ditusuk pake jarum steril dan akhirnya dibungkus dengan kain kassa.

Kalau mereka bisa memperlakukan kaki saya seperti itu, saya yakin merekapun dapat memperlakukan pasangan mereka dengan baik. (Sorry, sounds weird). Semoga keberkahan selalu beserta kalian yah.

 

20 Desember 2015, pukul 07.20 WIB.

Saya meninggalkan CP 9. Matahari sudah muncul dengan sempurna. Panas.

Seorang rekan menyusul saya. Jarak dari CP 9 menuju garis finish, di Kantor Walikota Cirebon diinformasikan sekitar 8 km.

Tapi bagi saya, saat itu, jarak tersebut seolah-olah menjadi Full Marathon. Matahari bersinar dengan sempurna.

“Kantor Walikota masih jauh Pak?” tanya saya kepada tukang becak.

“Kantor Walikota masih jauh Pak?” tanya saya kepada sopir angkot.

“Kantor Walikota masih jauh Pak?” tanya saya kepada Pak Satpam

“Bapak punya Obeng?”. Saya halusinasi.

Saya merasa aneh, justru di 8 KM terakhir itu saya mampu berlari secara konsisten, sama seperti di KM awal saya berlari.

“Kantor Walikota masih jauh Pak?” tanya saya kepada salah seorang relawan.

“3 KM lagi, Mas. Ayo Semangat !!”.

“Another 3 km to go Mat !”. Saya berdialog.

Ingat, Senyum Kemenangan Berada di depan anda, 5 KM lagi. Sebuah tulisan di spanduk menghentak.

Another PHP moment.

“Kantor Walikota masih jauh Dek?”. tanya saya kepada rombongan anak sekolah, generasi penerus bangsa yang harus kita bina dengan sebaik-baiknya.

“Sebentar lagi Pak”. jawab mereka kompak bak paduan suara.

Gusti, saya dipanggil BAPAK. Tetapi saat itu saya tidak mengeluarkan kartu identitas.

Saya terus berlari. Saya memandangi sepatu lari saya. “Abis ini harus diganti nih”. Saya berdialog dengan sepatu.

Tampaknya kalau sedang halusinasi, saya memiliki moment keakraban dengan segala komponen yang ada di sekitar saya.

“Mat, Cirebon Express jam 10 yah”. Saya berdialog dengan electronic ticket.

Saya terus berlari. Run Mamat, Run !!!.

Senyum saya semakin mengembang (senyum dengan lesung pipit andalan) melihat 2 orang relawan yang siap-siap membidik. Belajar dari pengalaman, maka dalam hitungan millisecond, saya merapikan postur tubuh dan membalikkan topi agar muka saya lebih terlihat. Sukses.

“Kantor Walikota masih jauh Mas?” tanya saya kepada Mas relawan.

“Itu Mas, sedikit lagi, perempatan belok kiri”.

Gusti, alhamdulillah, saya gak dipanggil BAPAK.

Daaan, mas relawan tadi benar, setelah saya belok, gegap-gempita orang-orang hebat terpampang di hadapan saya.

Mereka menyemangati saya. Memberikan high five dan bertepuk tangan.

Saya ingin bertepuk tangan juga.

50 meter menjelang finish. Saya menangis. Saya terharu. Saya mengucapkan syukur, karena masih diberikan kesempatan untuk melakukan hal ini.

25 meter menjelang finish. Sambutan orang-orang hebat di hadapan saya semakin membahana. Teriakan penyemangat dari anak-anak Indonesia membuat tangis saya semakin menjadi. Tangis dalam hati.

Di bawah garis finish, saya bersimpuh, bersujud.

Terima Kasih ya Allah, atas segala karunia-Mu.

Terima Kasih.

 

20 Desember 2015, pukul 10.00 WIB.

Kereta bertolak dari Stasiun Cirebon. Saya adalah salah seorang penumpangnya.

Kalimat syukur tak putus saya ucapkan.

 

*****

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk apresiasi saya yang setinggi-tingginya kepada semua orang hebat yang bekerja tanpa pamrih di NusantaRun Chapter 3 ini. Merupakan sebuah kehormatan bagi saya, untuk menjadi bagian dari movement ini.

Semoga Tuhan memberkahi apa yang kita lakukan dan selalu memberikan kemudahan untuk melanjutkan ke Chapter berikutnya.

 

Tangerang, Jakarta dan sepanjang perjalanan menuju Jogjakarta.

Mamat.

www.bintangmamat.com

#CeritaNusantarun #TerusSekolah #UntukIndonesia #NusantaRun

Emak

Bagi saya, kedua orangtua saya adalah guru pertama dan selamanya. Banyak hal yang saya pelajari dari mereka. Konsep long live learning benar-benar saya dapatkan dari mereka.

Setelah Bapak tiada, Emak menjadi sosok mandiri yang enggan menggantungkan hidup dengan orang lain. Kemandiriannya membuat beliau menjadi manusia yang tangguh, bersemangat tinggi dan memiliki keinginan untuk berbagi yang tak lekang dimakan waktu.

Di tengah keterbatasannya, Emak justru selalu bersemangat untuk membantu orang, siapa saja tanpa terkecuali, bahkan terhadap orang yang belum dikenalnya. Sebuah momentum pembelajaran yang menjadi titik balik bagi saya.

Dalam perjalanannya hingga hari ini, Emak berhasil mengembangkan usaha rumahan di bidang kuliner dengan baik. Untuk seseorang yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas II Sekolah Rakyat (setingkat Sekolah Dasar), maka Emak masuk ke dalam pelaku wirausaha yang berhasil. Bisnis kuliner Emak cukup di kenal di sekitar daerah kami, bahkan hingga ke kota lain. Suatu hal yang selalu menjadi alasan kami untuk selalu bersyukur.

Emak membuka pintu dengan sangat lebar kepada anggota keluarga, tetangga, teman bahkan saudara yang memang membutuhkan pekerjaan. Persyaratan yang dibutuhkan cukup sederhana, mau capek. Emak selalu bilang ke kami, “orang hidup itu harus capek, kalau tidak mau capek tidak usah hidup”. Sebaris kalimat sederhana yang menampar saya terutama saat semangat saya menghilang.

Konsep membantu dan berbagi yang ditanamkan Emak kepada kami, anak-anaknya benar-benar sangat membekas. Kami berusaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan masing-masing, dengan cara kami tersendiri.

Mengutip dari acara Kick Andy Show di Metro TV “Orang kaya itu bukan dilihat dari berapa banyak harta yang dimiliki, tetapi dari berapa banyak harta yang dapat disumbangkan untuk membantu orang lain”.

Saya kembali tertampar dengan hebat.

Mamat,
9 Mei 2013 dan 17 Desember 2015.

teruntuk semua yang terlibat dalam Nusantarun dalam bentuk apapun, saya menyampaikan salam hormat setinggi-tingginya. Hanya kemurnian hati yang membuat kalian ingin berbagi. Dan saya percaya, bahwa hidup adalah untuk berbagi.

‪#‎InspirasiIbu‬ ‪#‎HITNusantaRun3‬

Inship Kuartal 3 – 2014

Untuk kesekian kalinya Komunitas MHI Tennis menyelenggarakan Internal Championship (InShip), sebuah sarana bagi para anggota kuartal berjalan untuk mengikuti pertandingan “resmi”. InShip kuartal 3 tahun 2014 ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 20 September 2014, di lapangan tenis Patra Kuningan, lapangan dimana Komunitas MHI Tennis berlatih secara rutin sejak 6 tahun yang lalu. Time flies !!.

Jumlah anggota kuartal ini merupakan jumlah terbanyak sepanjang keberadaan komunitas ini, yang akan menginjak usia 10 tahun pada Januari tahun depan. Tercatat 35 anggota terdaftar. Animo yang tinggi membuat ‘Pengurus’ melakukan beberapa adaptasi. Seperti jam latihan yang sebelumnya 6 jam menjadi 10 jam. Dan penggunaan pelatih yang sebelumnya 1 jam menjadi 2 jam.

Dari 35 anggota, 24 orang diantaranya hadir meramaikan InShip. Pemain dibagi menjadi 2 grup besar, sebut saja Grup A dan Grup B, dimana masing-masing grup terdiri dari pemain-pemain dengan level permainan Advance, Intermediate dan Beginner. Penentuan kategori-kategori tersebut hanya didasarkan dari jusifikasi internal pengurus.

Berdasarkan undian, Grup A dikomandoi oleh Hary, pemain yang baru bergabung kuartal ini, yang menurut pendapat saya pribadi, memiliki kombinasi pukulan yang sangat lengkap. Dan Grup B dikomandoi oleh Wily, yang sekali lagi menurut pendapat saya pribadi, memiliki top spin forehand yang sangat baik sekali.

Daftar pemain masing-masing grup sebagai berikut :
Grup A : Hary, Agus, Dani, Sam, Ageng, Zayyin, Kiki, Ari, Danan, Eko, Handoko, Sidik, Thariq.
Grup B : Wily, Mamat, Johar, Zifran, Ijang, Yayuk, Nike, Gilbert, Bani, Nova, Johan, Qisti, Roma.

Pertandingan pertama Advance dibuka oleh Hary – Agus versus Mamat – Johar dan pertandingan perdana Intermediate diawali oleh Zayyin – Kiki versus Yayuk – Nike. Banyak partai pertandingan yang berjalan dengan ketat, dengan perolehan angka yang ketat, bahkan harus diselesaikan dengan tie break.

Banyak juga kejutan yang terjadi, dimana sebagian teman-teman menampilkan permainan yang sangat apik dan konsisten, melebihi saat berlatih rutin. Sebut saja antara lain (berdasarkan pengamatan saya yang terbatas) Hary, Ijang, Sam, Handoko, Zifran, Kiki, Nike, Wily. Tak jarang pukulan-pukulan mereka mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari teman-teman lain yang menyaksikan dari pinggir lapangan.

Secara keseluruhan semua peserta yang bermain terlihat sangat antusias dan menunjukkan semangat juang yang tinggi yang akhirnya menghasilkan pukulan-pukulan ajaib yang nyaris mustahil untuk dilakukan sebelumnya. Bravo !!.

Ditemani dengan berbagai macam cemilan, buah-buahan dan juga minuman-minuman gratis, pertandingan bergulir dengan baik. Apalagi pertandingan-pertandingan tersebut juga diabadikan oleh Nova yang membawa 2 buah kamera dimana salah satu lensanya memiliki panjang hamper seukuran raket, mengingatkan saya kepada potografer yang sering meliput pertandingan olahraga.

Setelah menyelesaikan 10 pertandingan, Grup A akhirnya memimpin dengan 8 angka kemenangan. Namun sayang pertandingan ke 11 hingga 14 ditiadakan karena factor cuaca.

Adapun hasil lengkap seluruh pertandingan sebagai berikut :
No Grup A Score Grup B
1 Hary Agus 6 – 2 Mamat Johar
2 Dani Sam 6 – 4 Wily Zifran
3 Ageng Hary 7 – 6 Ijang Johar
4 Agus Dani 6 – 2 Ijang Zifran
5 Sam Ageng 5 – 7 Wily Mamat
6 Zayyin Kiki 6 – 3 Yayuk Nike
7 Zayyin Ari 6 – 0 Yayuk Gilbert
8 Danan Eko 6 – 7 Nova Dani
9 Handoko Kiki 6 – 0 Johan Qisti
10 Danan Ari Nova Nike
11 Handoko Ari Gilbert Qisti
12 Kiki Eko 6 – 2 Johan Bani
13 Zayyin Danan Roma Nike
14 Handoko Eko Roma Bani

Melihat perkembangan permainan yang membaik dari teman-teman membuat saya bahagia. Tetapi yang lebih membahagiakan adalah Komunitas MHI Tennis bisa menjadi seperti sekarang karena partisipasi luar biasa dari semua anggotanya.

I salute you, all !!.

Nb : Tulisan diatas adalah dari sudut pandang saya pribadi. Mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Credit buat Mas Nova atas foto-fotonya

Sang Lelaki

Untuk kesekian kalinya sang lelaki terduduk sendiri. Menatap jalan ibukota yang bermandikan cahaya kelam.

Malam telah menghampiri hari. Hari dimana fragmen tentang rasa mengalir dalam perbincangan di ruangan yang nyaris temaram.

Suara gelas yang beradu mulai menuju titik sepi.
Asap rokok yang mengepul kian menyeruak.

“Aku ingin menikahimu”.
Sang perempuan tertegun, tak mengira akan mendengarnya.

Sang perempuan tersenyum.
Sang lelaki tersenyum.

Keduanya menyandarkan punggung, pada kursi kayu yang sedikit berdebu.

Ada bintang di langit luar sana.
Ada awan hitam yang menjelaga, di antara mereka.

Menit berubah. Sang perempuan tak kunjung bersuara. Sang lelaki tak kunjung berkata lagi.

Keduanya memainkan runtutan kisah yang terjadi sejak hampir 4 tahun silam, di dalam ruang rasa masing-masing.

Sang lelaki tidak pernah mempercayai sesuatu yang bernama kebetulan. Ia percaya segala sesuatu terjadi demi sebuah alasan. Alasan yang sama ketika mata mereka berpadu untuk pertama kalinya.

Mata itu jendela hati.
Maka saat itu isi hati keduanya terlihat. Dan keduanya terlalu naif untuk menyadari datangnya cinta.

Waktu berlalu tanpa pernah ada yang mengalah dan menyadari bahwa mereka telah jatuh cinta.

Sang perempuan membenarkan letak duduknya. Berusaha untuk berujar, tetapi kata terlalu berat untuk terurai.

Sang lelaki membenarkan letak duduknya. Berusaha untuk membuka nuraninya, tetapi rasa terlalu kasat untuk dilihat.

Asap rokok mulai menipis.
Denting gelas sudah tak terdengar lagi.

Sang perempuan menyerah.
Sang lelaki menyerah.

Terkadang, Tuhan hanya mempertemukan, bukan mempersatukan.

Keduanya kemudian berpisah. Melanjutkan kehidupan masing-masing. Kata hanya tetap akan terurai, tanpa memiliki makna.

Sang lelaki mengamit malam.
Hidup harus berlanjut.

Bandara

Awal dari sebuah akhir. Akhir dari sebuah awal. Tempat bahagia tercipta atau sedih yang melirih.

Tempat senyum mengembang atau air mata menetes. Tempat yang mengawali segalanya atau mengakhiri segalanya.

Tempatku menemukanmu, bidadariku.

Tulisan keenam dalam 30 hari mengejar cerita

Setia

Waktu. Aku menghitungnya. Pada jam dinding usang miring yang terpasang di atas pintu. Suara detiknya terseok berat, mengejar menit yang bergerak lebih cepat. Suara azan baru saja selesai berkumandang dari Surau yang terletak di seberang sungai yang menghitam ini. Sungai yang dipenuhi dengan kotoran.

Suara kaki yang berjalan di atas lantai bambu sedemikian pelan. Terseret dalam enggannya langkah. Berderit. Aku terduduk. Kakiku yang telanjang tergantung di atas air sungai. Bau busuk tak lagi ku hiraukan. Bau yang hampir 5 tahun ini selalu menemaniku.

Aku melepas pandangan ke ujung gang yang gelap. Masih berharap ia akan datang menemuiku. Menjemputku. Seperti janji yang diucapkan sebelum raganya lenyap di awal pagi itu. Pagi dimana untuk terakhir kalinya aku melihat senyumnya.

Orang bilang dia mencari kerja di negeri seberang. Ada juga yang bilang dia sudah menjadi pengusaha di kota besar. Bahkan ada juga yang bilang dia sudah mati. Ah, aku tak peduli. Bagiku, janjinya adalah harga mati. Sebuah harga yang akan ku bawa sampai mati.

Gerhana, dia menyebut namanya. Nama yang sangat indah untuk dilafalkan. Nama yang kemudian selalu menjadi kata yang kusebut di sepanjang hariku.

“Aku akan menjemputmu, Bulan. Tunggu aku di atas balai di sungai itu”. Hanya sebaris kalimat itu yang kini kujadikan pegangan. Pegangan atas kesetiaannya yang tak tercela. Dan aku percaya. Maka kini aku tetap menunggu. Menunggu dalam sepi. Menunggu dalam dingin.

“Gerhana … ” lirihku. Aku akan selalu menunggumu. Akan kujaga cinta ini. Akan kujaga kesetiaan ini. Akan kujaga kesucian ini. Kesucian yang aku pertahankan dengan segenap ragaku. Kesucian yang sedemikian agung, yang membuatku memilih untuk terjun ke sungai hitam ini, saat para durjana itu berusaha merampasnya.

Seorang perempuan mati bunuh diri di Kali Mati, judul sebuah berita di koran.

Itu ragaku, Gerhana.

Tulisan kelima dalam 30 Hari mengejar cerita

Kamar Yang Gelap

Ia mulai melepaskan pakaiannya. Satu persatu. Hingga tidak ada sehelai benangpun melekat. Dalam kegelapan kamar yang berukuran 3×4 meter, di sudut jalan kumuh yang seringkali banjir setelah hujan mengguyur ibukota.

Nafas kami memburu. Kemudian semuanya berlalu.

Masih dapat ku rasakan pelukan erat darinya, menjelang perpisahan sementara kami. Senyumnya merekah, tergaris hangat di bibirnya yang bergincu merah.

Beberapa lembar seratus ribu rupiah kusematkan di balik pakaian dalamnya.

Dan semua terjadi dalam kamar yang gelap.

  • *****
  • Entah sudah berapa purnama berlalu, sejak jasadnya terbujur kaku dihadapanku. Pertahanannya akhirnya runtuh, dalam menjalani hidup yang terlalu penuh dengan keluh dan peluh.

    Mulutnya berbusa. Ia meregang nyawa didekapanku. Matahari bersinar sangat terang siang itu.

    Tatapanku nanar. Ada sekelebat mata iblis tergambar. Membuatku tertampar.

    Tetiba aku membencinya. Tetiba aku membenci siang. Membenci matahari. Membenci terang.

    Hidup yang penuh beban bukan alasan untuk segera mengakhirinya.

    “Apalah susahnya berpakaian dengan rapih, sedikit terbuka, berdandan yang menarik, mengais rejeki, di tempat itu?. Di tempat yang penuh dengan kepulan asap rokok dan bau minuman keras yang menyengat dengan teramat sangat. Tempat dimana jemari lelaki hidung belang menari lincah di lekuk tubuh perempuan dengan sangat leluasa, tanpa ada sesuatu yang menghalangi geraknya. Apa susahnya?”.

    Ia mungkin mendengarkan perkataanku walaupun tangannya sibuk memulas bibirnya dengan gincu merah.

    “Tidak perlu lagi memikirkan masalah norma. Persetan !. Norma itu sudah ditelan oleh tekanan hidup. Selembar ratusan ribu lebih penting daripada norma “.

    Ku tarik kembali sarung kumalku.

    Sengatan matahari yang terik membuatku tersadar. Jasadnya masih terbujur kaku. Orang ramai mulai berdatangan.

    *****

    Telunjukku menekan tombol di dinding yang kusam dan dingin. Lampu padam. Kamar menjadi gelap. Ku lucuti pakaiannya. Satu persatu. Hingga tidak ada sehelai benangpun melekat. Kuhirup aroma parfum murahan.

    Nafas kami memburu. Kemudian semuanya berlalu.

    Dan semua terjadi dalam kamar yang gelap.

    Perempuanku

    Perempuanku,
    Aku melukis wajahmu dalam ruang ingatan yang menyempit. Berharap mampu melengkapi bagian-bagian lekukmu yang tak jelas tergariskan.

    Perempuanku, ternyata jarak membuat ikatan kita merapuh. Ikatan yang kita bangun dari sebuah harapan yang pelan-pelan kita kumpulkan. Harapan yang kita balut dengan doa. Doa yang kemudian tak kita yakini keberadaannya.

    Perempuanku,
    Langit membelah kita. Membuat kita tersudut pada sisi yang berlawanan. Pada sisi yang tak memiliki ruang titik temu. Pada sisi yang menyiratkan hampa. Membuat kita terpaksa berdiri dengan kedua kaki kita sendiri. Membuat kita tegak dengan dada kita sendiri.

    Perempuanku,
    Aku lelah dengan kedua tangan ini. Aku lelah dengan hati ini. Aku lelah dengan langit. Aku lelah dengan jarak. Aku lelah dengan hampa. Aku lelah dengan diriku sendiri. Aku lelah dengan kita.

    Perempuanku,
    Aku, lelakimu, memohon diri.

    Bahwa hidup adalah untuk berbagi

    Buat saya, kedua orangtua saya adalah guru pertama dan selamanya. Banyak hal yang saya pelajari dari mereka. Konsep long live learning benar-benar saya dapatkan dari mereka.

    Setelah Bapak tiada, Emak menjadi sosok mandiri yang enggan menggantungkan hidup dengan orang lain. Kemandiriannya membuat beliau menjadi manusia yang tangguh, bersemangat tinggi dan memiliki keinginan untuk berbagi yang tak lekang dimakan waktu.

    Di tengah keterbatasannya, Emak justru selalu bersemangat untuk membantu orang, siapa saja tanpa terkecuali, bahkan terhadap orang yang belum dikenalnya. Sebuah momentum pembelajaran yang menjadi titik balik bagi saya.

    Dalam perjalanannya hingga hari ini, Emak berhasil mengembangkan usaha rumahan di bidang kuliner dengan cukup baik. Untuk seseorang yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas II Sekolah Rakyat (setingkat Sekolah Dasar), maka Emak masuk ke dalam pelaku wirausaha yang berhasil. Bisnis kuliner Emak cukup di kenal di sekitar daerah kami, bahkan hingga ke kota lain. Suatu hal yang selalu menjadi alasan kami untuk selalu bersyukur.

    Emak membuka pintu dengan sangat lebar kepada anggota keluarga, tetangga, teman bahkan saudara yang memang membutuhkan pekerjaan. Kalau dihitung secara total mungkin jumlahnya bisa mencapai hingga 30 orang. Persyaratan yang dibutuhkan cukup sederhana, mau capek. Emak selalu bilang ke kami, “orang hidup itu harus capek, kalau tidak mau capek tidak usah hidup”. Sebaris kalimat sederhana yang menampar saya terutama saat semangat saya menghilang.

    Konsep membantu dan berbagi yang ditanamkan Emak kepada kami anak-anaknya benar-benar sangat membekas. Kami berusaha untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan masing-masing, dengan cara kami tersendiri.

    Saya beruntung, lingkungan sekitar saya memiliki konsep untuk berbagi yang sama seperti yang Emak ajarkan. Saya masih ingat ketika Komunitas MHI Tennis merayakan ulang tahun ke-5 nya dengan cara yang sangat berbeda. Kami mengadakan penggalangan dana untuk anak yatim di daerah Tebet. Selain itu, kami juga mengundang mereka ke lapangan dan mengajarkan mereka cara bermain tenis. Sebuah rangkaian acara yang membuat saya berdecak kagum atas ketulusan rekan-rekan MHI Tennis dalam hal berbagi.

    Saya harus selalu mengucap syukur memiliki banyak teman yang punya semangat tinggi untuk berbagi kepada sesama. Seorang Tuteh dengan beberapa rekannya saat ini sedang gencarnya memberikan bantuan kepada korban letusan Gunung Rokatenda di Nusa Tenggara Timur. Begitu banyak kegiatan yang mereka lakukan untuk membantu meringankan beban sesama. Serangkaian acara yang konsepnya sangat saya acungi jempol. Saya kembali berdecak kagum, mengucap syukur dan tak habisnya menghela nafas bahagia.

    Mengutip dari acara Kick Andy Show di Metro TV “Orang kaya itu bukan dilihat dari berapa banyak harta yang dimiliki, tetapi dari berapa banyak harta yang dapat disumbangkan untuk membantu orang lain”.

    Saya kembali tertampar dengan hebat.

    Tulisan kedua dalam “30 Hari Mengejar Cerita”

    Aku Pecinta Hujan

    Aku pecinta hujan. Bagiku hujan itu memberikan kedamaian. Membawa semilir angin yang mengalir, membasahkan tanah yang kerontang dan membawa segala bekas yang tertinggal. Aku pecinta hujan.

    Senja ini hujan kembali turun. Aku terjaga dari lelap, membuyarkan sosokmu yang muncul dalam bunga tidur. Sosok yang entah dimana berada. Sosok yang pernah membawa serpihan hati saya dan membiarkannya terlantar.

    10 tahun bukan waktu yang singkat untuk melihat hati ini perlahan membusuk. Menebarkan aroma kebencian atas cinta yang terenggut. Meluluhlantahkan asa yang yang dibangun dengan keringat dan air mata. Kamu membawanya pergi, saat hujan turun, dan tak sedikitpun berniat untuk mengembalikannya.

    Hati ini sudah membatu, bersama rindu yang menderu dan lidah yang menjadi kelu. Dalam desah nafas yang memburu dan dalam imajinasi yang terlalu tabu. Kamu adalah rindu. Rindu yang membatu !.

    Hujan kembali turun di senja yang mulai gelap. Kedua mataku menatap nanar pada jalan yang terpampang di sepanjang penglihatan. Darah sudah mulai menetes dari kedua nadi yang teriris. Sayang, aku mencari hatiku. Bila tak ku temui di fananya dunia, mungkin di neraka paling dasar bisa ku dapatkan.

    Tulisan pertama dalam “30 hari mengejar cerita”